Vrydag 03 Mei 2013

Upaya Meningkatkan Sosial Budaya di Desa Muncar


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sosial Budaya adalah hal yang diciptakan manusia dengan pemikiran dan budi nuraninya untuk atau dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan, perubahan sosial budaya merupakan sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Oleh karena itu, masalah sosial yang kecil yang terjadi dalam masyarakat perlu diperbaiki agar tidak membudaya.


B.     Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini antara lain:
1.      Mengetahui tentang sosial budaya yang ada di masyarakat
2.      Mengetahui masalah sosial budaya yang terjadi di desa muncar
3.      Mengetahui sebab-sebab masalah sosial budaya di desa muncar
4.      Mengetahui langkah yang harus diambil dari masalah sosial budaya di desa muncar.











BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Gambaran Keadaan Sekarang
Bahwa keadaan sosial budaya di desa Muncar dapat dilihat dengan jelas dari kegiatan budaya masyarakat di desa tersebut.
Misalnya:
Di sebuah desa tersebut, ada salah satu warga desa yang sedang mengadakan acara hajatan, biasanya ketika dalam acara hajatan tersebut warga desa sekitar membantu orang yang punya hajatan, seperti halnya dengan rewangan (dalam bahasa jawa). Namun, terkadang pula ada warga desa yang enggan membantu atau ikut berpartisipasi dikarenakan:
1.      Tingginya rasa ego
2.      Rendahnya rasa untuk bersosialisasi
3.      Malas
4.      Individualisme

B.     Identifikasi Masalah
Beberapa dari warga desa Muncar masih sulit untuk mengembangakan rasa sosialnya yang disebabkan:
1.      Tingginya rasa ego
Rasa ego adalah perilaku yang mementingkan diri sendiri. Sifat ini mengutamakan kepuasan sendiri yang mencegah sesuatu melawan atau mengalahkan kepentingannya. Dan sifat seperti ini biasanya tidak memperdulikan kepentingan orang lain.
2.      Rendahnya rasa untuk bersosialisasi
Rasa untuk bersosialisasi yaitu perasaan yang memikirkan bahwa dirinya tidak akan bisa hidup tanpa adanya bantuan dari orang lain. Oleh karena itu penting apabila seseorang yang hidup bermasyarakat untuk saling bersosialisasi. Apabila dalam hidup bermasyarakat kurang adanya rasa bersosialisasi maka akan terkucilkan.


Misalnya:
Nyonya Ina tidak membantu dalam perayaan hajatan nyonya Tuti disebabkan ketika nyonya Ina tengah memiliki hajatannya dulu si nyonya Tuti juga tidak membantu. Maka timbullah rasa ego dan rasa tidak terima dari nyonya Ina sehingga menyebabkan nyonya Ina mmiliki rasa sosial yang rendah.
3.      Malas
Sesungguhnya sifat malas ini adalah salah satu sifat dari karakteristik seseorang, yang menyebabkan seseorang tersebut memiliki rasa acuh tak acuh terhadap kegiatan yang ada dilingkungan sekitar yang diakibatkan dari sifat malas tersebut.
4.      Individualisme
Individualisme merupakan falsafah atau pandangan hidup seseorang yang ditentukan oleh dirinya sendiri yang menekankan kemerdekaan dan kebebasan dirinya sendiri. Sesungguhnya sifat individualisme setengah dari sifat egois, jadi sifat individualisme tidak jauh beda dengan egois. Yang membedakan adalah kalau sifat egois masih bersosialisasi dengan lingkungan karena hanya ingin mencari keuntungan/ kepuasan untuk dirinya dengan tidak memikirkan kepentingan orang lain, sedangkan individualisme sama sekali tidak bersosialisasi dengan lingkungan dan tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain karena menurutnya segala sesuatu masih bisa dilakukan sendiri (non sosial).

C.    Alternatif  Pemecahan Masalah
1.      Mengurangi sifat ego
Sebagai warga yang baik kita dapat memberikan nasehat kepada sesama warga, cara yang paling cepat biasanya dengan menumbuhkan rasa “memerlukan” (Super Ego) pada orang tersebut. Misalnya menyapa, menawarkan pertolongan, atau sejenisnya yang bersifat memberi sesuatu kepada dia. Dengan semakin banyaknya keperluan seseorang terhadap kita, akan semakin mudah pula bagi kita untuk “mengendalikan” orang tersebut. Adapun “keperluan” yang dimaksud bukan karena kita sendiri yang memiliki banyak kekurangan yang kemudian selalu dicari/dipanggil seseorang untuk memenuhi kekurangan tersebut, melainkan kita dalam kondisi netral atau tidak berutang sesuatu kepada orang tersebut. Berikutnya, agar sifat Ego melunak, maka harus disertai dengan penumbuhan sifat dari sifat mementingkan diri sendiri menjadi membutuhkan orang lain dan merasa “rendah diri” atau sadar akan kekurangan diri.

2.      Mempererat tali persaudaraan
Dengan menanamkan pemikiran bahwa kita semua adalah saudara. Dengan senyum, salam, sapa dan supel (padai bergaul), itu semua hal yang dapat mempersatukan tali persaudaraan. Dengan mempersatunya tali persaudaraan maka tidak akan ada rasa canggung, rasa acuh, rasa tidak perduli akan satu sama lain.
3.      Menanankan jiwa gotong royong
Jiwa gotong royong akan lebih mudah ditanamkan ketika seseorang sudah mempererat tali persaudaraan. jika sudah berfikir bahwa semua adalah saudara maka, ketika seseorang sedang membutuhkan bantuan maka kita sebagai saudara tidak akan berfikir lagi untuk mengulurkan tangan dalam membantunya. Dan apabila sesuatu hal dikerjakan secara bersama-sama akan lebih ringan dari pada dikerjakan sendiri.

















BAB III
KESIMPULAN

Bahwa masalah sosial budaya yang terjadi di desa Muncar seperti halnya membantu perayaan hajatan merupakan contoh kecil dari salah satu kegiatan yang ada di desa. Melalui tanggapan atau respon warga sebagai anggota masyarakat dengan berbagai alasan dan faktor seperti rasa egois, dan hilangnya rasa bersosialisasi ini yang menyebabkan konflik antar warga. Maka dengan cara meningkatkan tali persaudaraan dan jiwa gotong royonglah yang dapat menyelesaikan masalah sosial budaya tersebut.




Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking