Woensdag 01 Mei 2013

Isu Kesehatan Lingkungan yang Berpengaruh terhadap Kesehatan Reproduksi


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dewasa ini, kesehatan masyarakat merupakan keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dengan lingkungan untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia. Kesehatan lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Untuk membangun kesehatan lingkungan harus memperhatikan beberapa faktor-faktornya, antara lain: perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Apabila salah satu faktor tersebut kurang terjaga maka kesehatan lingkungan akan berpengaruh. Oleh sebab itu, penulis menuliskan makalah dengan judul “Isu Kesehatan Lingkungan yang Berpengaruh terhadap Kesehatan Masyarakat”

B.     Tujuan
Adapun tujuan disusunnya makalah “Isu Kesehatan Lingkungan yang Berpengaruh terhadap Kesehatan Reproduksi” antara lain:
1.      Untuk mengetahui isu-isu kesehatan lingkungan
2.      Untuk mengetahui rendahnya kondisi kesehatan lingkungan
3.      Untuk mengetahui pemanfaatan fasilitas pemerintah dan keterjangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
4.      Untuk mengetahui rendahnya status kesehatan penduduk miskin
5.      Untuk mengetahui pengaruh kesehatan lingkungan terhadap kesehatan reproduksi

C.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah “Isu Kesehatan Lingkungan yang Berpengaruh terhadap Kesehatan Reproduksi” adalah :
1.      Apa sajakah isu-isu kesehatan lingkungan?
2.      Bagaimanakah rendahnya kondisi kesehatan lingkungan saat ini?
3.      Bagaimanakah pemanfaatan fasilitas pemerintah dan keterjangkauan pelayanan kesehatan masyarakat?
BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Rendahnya Kondisi Kesehatan Lingkungan
            Salah satu faktor penting lainnya yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat adalah kondisi lingkungan yang tercermin antara lain dari akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar. Pada tahun 2002, persentase rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air yang layak untuk dikonsumsi baru mencapai 55,2 persen (BPS 2002), dan akses rumah tangga terhadap sanitasi dasar 63,5 persen.
            Jelas lingkungan mempengaruhi kesehatan sesorang, orang yang tinggal ditempat bersih, aman, dan nyaman akan mendapat kesehatan yang lebih baik dibanding orang yang bertempat tinggal di daerah kumuh seperti bantaran kali, kolong jembatan, dan kawasan Industri. Masih banyak masyarakat indonesia yang bertempat dilingkungan kurang baik, pelosok-pelosok. Khususnya masyarakat jakarta.
Faktor-faktor buruknya lingkungan yang mempengaruhi kesehatan:
·         Banyak bangunan bertingkat yang di beton = dengan banyaknya bangunan bertingkat maka fungsi tanah yang seharusnya menyerap air kini digantikan fungsinya oleh sistem penyerapan buatan yang kurang efektif, dapat berakibat banjir dan mewabahnya penyakit
·         Pembuatan produk-produk yang lama hancur = bahan baku yang lama hancur akan mempercepat penumpukan sampah karena sampah dihasilkan setiap hari.
·         Kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungannya = sehingga membuang sampah sembarang, membangun rumah dibantaran kali, dll
·         Banyak kendaraan dan pabrik-pabrik = kendaraan yang sudah lama akan mengalami pembakaran yang tidak sempurna sehingga lebih banyak menghasilkan Co2 dan Pb begitupun dengan pabrik-pabrik.
Solusinya, Penggusuran rumah-rumah yang berada dibantaran kali, kolong jembatan dan taman-taman lalu menempatkannya kembali ditempat yang layak karena ketika kali yang seharusnya menjadi saluran pembuangan menjadi berkurang fungsinya karena adanya rumah-rumah di bantaran kali. Kemudian, Memanfaatkan sampah dengan cara mendaur ulangnya, pengurangan produk-produk yang lama hancur sperti plastik dan kaca.

B.     Rendahnya Status Kesehatan Penduduk Miskin
Angka kematian bayi pada kelompok termiskin adalah 61 dibandingkan dengan 17 per 1.000 kelahiran hidup pada kelompok terkaya. Penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian utama pada bayi dan balita, seperti malaria dan TBC, lebih sering terjadi pada masyarakat miskin. Rendahnya status kesehatan penduduk miskin terutama disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan karena kendala geografis dan kendala biaya (cost barrier). Data SDKI 2002-2003 menunjukkan bahwa 48,7 persen masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan adalah karena kendala biaya, jarak dan transportasi. Utilisasi rumah sakit masih didominasi oleh golongan mampu, sedang masyarakat miskin cenderung memanfaatkan pelayanan di puskesmas. Demikian juga persalinan oleh tenaga kesehatan pada penduduk miskin hanya sebesar 39,1 persen dibanding 82,3 persen pada penduduk kaya. Asuransi kesehatan sebagai suatu bentuk sistem jaminan sosial hanya menjangkau 18,74 persen (2001) penduduk, dan hanya sebagian kecil diantaranya penduduk miskin.
Solusinya, Memberikan jaminan akses dan kualitas pelayanan kesehatan gratis untuk keluarga miskin dimanapun berada di wilayah Negara Indonesia. Upaya kesehatan dasar dan rujukan terutama diprioritaskan pada setiap bayi bayi, anak dan kelompok masyarakat risiko tinggi. Dengan demikian maka setiap Puskesmas dan jaringannya dapat menjangkau dan dijangkau seluruh masyarakat di wilayah kerjanya terutama di daerah perbatasan, terpencil dan tertinggal.

C.    Rendahnya Pemanfaatan Fasilitas Pemerintah dan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan dasar, yaitu Puskesmas yang diperkuat dengan Puskesmas Pembantu dan Puskesmas keliling, telah didirikan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, jumlah Puskesmas di seluruh Indonesia adalah 7.550 unit, Puskesmas Pembantu 22.002 unit dan Puskesmas keliling 6.132 unit. Meskipun fasilitas pelayanan kesehatan dasar tersebut terdapat di semua kecamatan, namun pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan masih menjadi kendala. Fasilitas ini belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat, terutama terkait dengan biaya dan jarak transportasi. Fasilitas pelayanan kesehatan lainnya adalah Rumah Sakit yang terdapat di hampir semua kabupaten/kota, namun sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan belum dapat berjalan dengan optimal
Pada tahun 2002, rata-rata setiap 100.000 penduduk baru dapat dilayani oleh 3,5 puskesmas. Selain jumlahnya yang kurang, kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan di puskesmas masih menjadi kendala. Pada tahun 2003 terdapat 1.179 Rumah Sakit (RS), terdiri dari 598 RS milik pemerintah dan 581 RS milik swasta. Jumlah seluruh tempat tidur (TT) di RS sebanyak 127.217 TT atau rata-rata 61 TT melayani 100.000 penduduk. Walaupun rumah sakit terdapat di hampir semua kabupaten/kota, namun kualitas pelayanan sebagian besar RS pada umumnya masih di bawah standar. Pelayanan kesehatan rujukan belum optimal dan belum memenuhi harapan masyarakat. Masyarakat merasa kurang puas dengan mutu pelayanan rumah sakit dan puskesmas, karena lambatnya pelayanan, kesulitan administrasi dan lamanya waktu tunggu. Perlindungan masyarakat di bidang obat dan makanan masih rendah. Dalam era perdagangan bebas, kondisi kesehatan masyarakat semakin rentan akibat meningkatnya kemungkinan konsumsi obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.

D.    Studi Kasus tentang Penerapan Kesehatan Lingkungan
Penerapan Kesehatan Lingkungan  seperti diadakannya program lingkungan sehat.
Program ini ditujukan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas-sektor berwawasan kesehatan.
Kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini antara lain meliputi:
1. Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar;
2. Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan;
3. Pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan; dan
4. Pengembangan wilayah sehat






BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai isu kesehatan yang berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi, maka dapat diambil kesimpulan  bahwa kebiasaan masyarakat yang didapatkan dari rendahnya kondisi kesehatan lingkungan  juga permasalahan ekonomi yang dikarenakan tingkat kemiskinan yang tinggi, sehingga mereka tidak mampu memeriksakan organ reproduksinya kepada tenaga medis profesional,serta fasilitas pemerintah yang kurang keterjangkauannya di masyarakat pedalaman membuat masyarakat sulit untuk mengakses pelayanan kesehatan tersebut. Hal yang terpenting untuk mengatasi masalah kesehatan ini adalah ada kesadaran dan kepedulian pemerintah, kader kesehatan dan masyarakat terutama di khususkan kepada pemerintah karena pemerintah yang mengatur roda permasalahan di negara ini.